LATAR BELAKANG TIMBULNYA MASALAH ARTI

Sebuah Ringkasan dari Buku “Filsafat Bahasa” karya Rizal Muntasyir

Oleh: Hanifatullaila Budiyani

 

Perkembangan sejarah filsafat selalu diwarnai oleh pertentangan-pertentangan antar ide dari para filsuf. Salah satu wujud pertentangan itu ialah pertentangan dari para penganut metode analitika dengan penganut Neo Hegelianisme tentang masalah arti dari pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh penganut Neo Hegelianisme. Para filsuf menggunakan bahasa untuk mengungkapkan ide-ide atau pikiran-pikiran mereka dalam mengajukan metode filosofis. Oleh karena itu, bahasa dianggap penting untuk diperhatikan demi memahami hasil pemikiran mereka. Dari sejarah perkembangan filsafat dapat kita ketahui bahwa pada mulanya filsafat bersifat kosmosentris, dilanjutkan dengan teosentris dan antroposentris, kemudian mulai pada abad ke 20 kajian filsafat berpusat pada masalah bahasa yang diberi istilah dengan logosentris. Mereka memandang bahasa sebagai objek terpenting dari pemikiran mereka.

Dari perbedaan metode filsafat yang ada sampai perbedaan pandangan mereka tentang bahasa, terdapat tiga sebab pokok yang dapat menimbulkan masalah arti dari sebuah pernyataan. Sebab-sebab itu di antaranya:

  1. Kerancuan bahasa filsafat

Filsafat itu berbicara tentang realitas melalui pernyataan-pernyataan filsafat yang diungkapkan melalui bahasa. Realitas tidak dapat dinilai benar atau salahnya, karena realitas itu ‘ada sebagaimana adanya’. Bahasa sebagai alat atau sarana untuk menyampaikan realitas itulah yang sangat mungkin untuk dinilai benar atau salahnya. Sebagaimana sifat bahasa yang fleksibel dan mudah berubah itu dapat dimanipulasi oleh penggunanya.

Bahasa, pada masa Sokrates, digunakan oleh para kaum sofis dalam berfilsafat yang identik dengan silat lidah. Mereka memutarbalikkan perbincangan dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan untuk mempermalukan lawan diskusi. Dalam perkembangan selanjutnya, Aristoteles menyusun logika sebagai cara berfikir yang dikaitkan dengan bahasa dan filsafat. Logika ini dapat menjadi tolak ukur keabsahan suatu pernyataan. Akan tetapi ada beberapa filsuf yang melalaikan penggunaan logika dalam mengungkapkan pernyataannya sehingga menimbulkan kerancuan dan ambiguitas dalam bahasa yang mereka gunakan.

Dalam logika (Positivisme logik) suatu pernyataan dapat dikatakan bermakna (meaningful) dengan mengklasifikasikan ke dalam dua macam proposisi, yaitu,  proposisi formal (proposisi logis/analitik) dan proposisi empiris.

2. Sumber perhatian para filsuf terhadap bahasa

  • Metafisika

Metafisika menurut Alston adalah suatu bagian filsafat yang secara garis besar mencoba merumuskan fakta-fakta yang paling umum dan luas tentang dunia, termasuk penyebutan kategori-kategori yang paling dasar di mana entitas dan beberapa penggambaran interrelasi di antara mereka juga diajukan. Adanya pro dan kontra dalam bidang ini menimbulkan permasalahan bahasa filsafat yang paling mendasar. Menurut Russell yang pro dengan metafisika, dengan teori atomisme logisnya berpendapat bahwa ada kesepadanan antara unsur bahasa dan unsur kenyataan. Bagi kaum positivisme logis, yang kontra terhadap metafisika, mereka menganggap bahwa ungkapan-ungkapan metafisik itu tidak memenuhi syarat-syarat tertentu untuk dikatakan kalimat yang benar-benar mengandung makna secara harfiah.

  • Logika

Logika merupakan alat atau sarana utama dalam berfikir dan berfilsafat. Menurut Alston logika adalah suatu studi penyimpulan atau suatu usaha untuk merumuskan kriteria yang tepat guna memisahkan kesimpulan yang sah dan tidak sah. Suatu kesimpulan dikatakan sah apabila susunan pangkal pikirnya—terdiri dari premis mayor dan premis minor—juga betul.

  • Epistemologi

Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal usul, struktur, metode, dan keadsahan ilmu pengetahuan. Kaitannya dengan persoalan bahasa adalah dengan adanya dua macam pengetahuan, yakni pengetahuan a priori (yang didasarkan pada dugaan tanpa/sebelum pengalaman) dan a posteriori (yang dilandasi pengalaman). Hal ini terlihat ketika kita menyimpulkan 10 x 10 = 100 menunjukkan bahsa setiap unsur dari term-term tersebut memiliki makna yang sudah pasti (a priori). Berbeda dengan ungkapan makna yang terkandung dalam pengetahuan a posteriori yang didasarkan pada pengalaman yang berbeda-beda.

3. Upaya pencarian bahasa ideal bagi filsafat

Di samping mencari faktor penyeab timbulnya kerancuan bahasa dalam filsafat, para filsuf berupaya untuk menemukan suatu bahasa ideal dan tepat untuk menyampaikan maksud-maksud filsafat. Bahasa ideal ini bercirikan bahasa yang terlepas dari kekaburan, ambiguitas, dan bentuk penyimpangan bahasa lainnya. akan tetapi dalam upaya ini, para filsuf pun terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, yang dipelopori oleh Wittgensenstein mereka yang beranggapan bahwa bahasa biasa (ordinary language) atau bahasa yang digunakan sehari-hari itu lebih mudah dipahami oleh setiap orang dan dapat dijadikan bahasa ideal bagi filsafat. Ia menitikberatkan perhatiannya pada hubungan antara pikiran, proposisi dan bahasa. Menurut Ryle, bahasa biasa sudah memiliki aturan-aturan tersendiri yang disepakati bersama oleh masyarakat. Kedua, yang dipelopori oleh Russell, mengungkapkan sebaliknya, bahwa kesaahan itu timbul dari kenyataan bahwa bahasa biasa itu tidak cukup memadai bagi maksud-maksud filsafat. Ia menegaskan bahwa studi mengenai tata bahasa akan mampu menjelaskan secara lebih terang persoalan-persoalan filsafat daripada sesuatu yang biasa dianggap benar oleh para filsuf.

Usaha maksimal dari Wittgenstein untuk menentukan bahasa ideal bagi filsafat, yang didasarkan atas prinsip logika ini menurut Russell merupakan suatu bahasa yang benar-benar logis. Bahasa yang logis ini mengandung aturan sintaksis untuk mencegah ungkapan-ungkapan yang tidak bermakna juga mempunyai simbol-simbol tunggal yang selalu mengandung suatu makna yang unit dan terbatas.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ada tiga sebab utama yang melatarbelakangi timbulnya masalah arti. Ketiga sebab di atas itu semuanya bersumber kepada pandangan para filsuf terhadap bahasa itu sendiri dan sifat bahasa yang sangat lentur dan fleksibel, sehingga tidak setiap pemikiran yang sama dapat diungkapkan melalui bentuk bahasa yang sama.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized